Menjadi High Performing Individu Disaat Bos Lesu

Ditulis pada 27 Aug 2025 | Diupdate pada 27 Aug 2025 |oleh Arif Widodo

Waktu membaca 6 menit
Menjadi High Performing Individu Disaat Bos Lesu

Pernahkah kamu merasa pekerjaan yang kamu lakukan saat ini terasa tanpa makna?. Kamu hanya datang menyelesaikan todo list dari atasan dan tidak ada satupun percakapan yang menghidupkan suasana. Tidak ada tantangan dalam pekerjaan yang memantik api semangat belajar. Bahkan tidak ada tanda dari atasan bahwa Kamu sedang berjalan ke arah yang benar. Kemudian kamu mulai bertanya, apakah memang seperti ini dunia kerja? Kalau pimpinan saya terus begini, haruskah saya ikut diam dan mati perlahan?

Berhenti berkembang

Pemimpin yang pasif tak memberikan arah, atau bahkan hanya suka memberikan perintah tanpa tahu apa yang sedang diperintahkan. Namun yang lebih mencemaskan adalah betapa banyak dari kamu yang berhenti berkembang hanya karena pemimpinnya tidak menumbuhkan. Kamu kemudian mengaitkan nasib karir pada satu sosok , atasan. Padahal hidup, karir dan masa depan seharusnya tidak ditentukan oleh satu orang pun termasuk atasan, kecuali diri kita sendiri. 

Kita semua pasti mengakui lingkungan kerja tidak selalu ideal.  Ada tempat yang penuh mentoring dan kesempatan bertumbuh, tapi lebih banyak tempat yang sepi arah dan miskin tantangan. Tapi apakah itu berarti kita harus ikut stagnan? Sayangnya banyak dari kita terjebak pada kebiasaan lama. Kita menunggu. Menunggu dikasih pelatihan, menunggu diajak, menunggu disuruh. Kita pikir selama kita loyal dan rajin bekerja, semuanya akan otomatis berkembang. Padahal dunia tidak bergerak dengan hukum otomatis. Dunia bergerak dengan hukum kesadaran. Dan stagnasi sesungguhnya adalah alarm, bukan kutukan. Tapi tanda bahwa sudah waktunya kita mengubah arah. 

Upgrade Self Operating System

Mengupgrade sistem operasi dalam diri kita, bukan menunggu sistem luar berubah lebih dulu. Banyak orang hidup seperti hamster di roda, berputar terus, tapi enggak pernah ke mana-mana. Mereka bekerja mengejar target tapi kehilangan makna. Dan yang paling fatal, mereka tidak sadar bahwa mereka bisa melompat keluar dari roda itu. Kenapa? Karena mereka merasa tidak punya pilihan. Padahal selalu ada pilihan. Pilihan untuk bertanya, untuk belajar, untuk tumbuh, dan untuk menciptakan panggung sendiri ketika panggung tidak diberikan. Untuk itu, kita perlu mengaktifkan dua core engine dari seorang highperforming individual. Akal yang terjaga dan jiwa yang menyala. Akal yang terjaga membuat kita sadar bahwa sistem di luar tidak selalu ideal. Tapi kita bisa tetap melangkah dengan logika yang jernih. Kita mulai berpikir kritis. Apa yang saya bisa pelajari dari atasan saya bahkan dari kekurangannya? Mungkin dia pasif, tapi justru itu melatih kita untuk jadi proaktif. Mungkin dia tidak memberikan arahan, tapi itu bisa jadi ladang latihan untuk membangun arah kita sendiri. 

Menjadi High Performing Individu Disaat Bos Lesu
Menjadi High Performing Individu Disaat Bos Lesu

Penelitian Jeffrey Crant di tahun 2000 menyebutkan bahwa perilaku proaktif dalam organisasi merupakan prediktor kuat dari promosi dan pencapaian kerja jangka panjang. Mereka yang proaktif yang secara sadar mencari tantangan dan mengambil inisiatif untuk bertumbuh memiliki peluang karir yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang menunggu perintah. Lalu tentang jiwa yang menyala ini adalah tentang keberanian. Tentang gairah yang tak padam meski tak ada yang memuji. Tentang semangat belajar yang tak menunggu instruksi. Karena kita sadar kita diciptakan bukan untuk menjadi tukang suru berdasi, tapi untuk menjadi manusia utuh yang bertumbuh setiap harinya. Dorongan dari dalam diri untuk berkembang ini jauh lebih kuat dan bertahan lama dibandingkan motivasi dari luar seperti pujian, bonus, atau perintah atasan. Itulah kesimpulan dari penelitian di CN Ryan di tahun 1991. Artinya, kendali perkembangan Anda tidak pernah benar-benar ada di tangan atasan, tapi di tangan Anda sendiri.

Menciptakan panggungmu sendiri

Sahabat, seorang inovator itu enggak nunggu untuk diberikan panggung karena ia tahu panggung tidak selalu tersedia bagi mereka yang hanya menanti giliran. Ia menciptakan panggungnya sendiri dari ide, dari keberanian, dan dari ketekunan. Ia tidak sekedar mengikuti arus, tapi memetakan ar. Ia hadir bukan sebagai followers, tapi sebagai leader. Bukan sebagai pengikut jejak, tapi sebagai pembuka jalan. Seorang kawan cerita, ia bekerja selama bertahun-tahun di bawah atasan yang jarang bicara. enggak pernah memberikan evaluasi apalagi apresiasi. Awalnya ia frustasi, tapi suatu hari ia memutuskan untuk berhenti mengutuk situasi dan mulai mengubah pendekatannya. Ia mulai mempelajari pola ke Jatim. Ia mencatat masalah yang muncul setiap minggu lalu mencari solusinya sendiri. Ia mendokumentasikan semua proses belajarnya hingga akhirnya dalam evaluasi tahunan justru ia yang diangkat menjadi project leader karena dinilai mampu menyelesaikan masalah tanpa menunggu aba-aba. 

Langkah “Kecil” yang “Besar”

Satu langkah kecil menjadi titik balik besar. Bukan karena bosnya berubah, tapi karena ia mengubah dirinya sendiri. Pertanyaannya, berapa banyak dari kita yang berani memulai langkah itu? Berapa banyak yang bersedia keluar dari mentalitas disuapi menuju mentalitas mencari makan sendiri? Sadari bahwa karir naik bukan karena waktu, tapi karena kapasitas. Bukan karena senioritas, tapi karena kontribusi. Dan kontribusi tidak lahir dari kerja keras mata, tapi dari kerja sadar, dari proses belajar yang terus-menerus. Lihatlah tempat kerja seperti gym. Setiap hari adalah latihan, bos yang sulit latihan kesabaran. Proyek yang ambigu latihan kreativitas, anak buah yang keras kepala latihan leadership. Dan dalam gym ini kita bisa jadi mendapat pelatih yang galak atau acuh-acuh. Tapi yang terpenting kita tetap tenang, kita tetap berlatih. Karena tujuan akhir kita bukan menyenangkan pelatih, tapi membentuk otot mental kita sendiri. Saya percaya bahwa setiap tantangan adalah tanda, setiap hambatan adalah isyarat. Bahwa di balik semua yang kita keluhkan ada peluang pertumbuhan yang sedang disiapkan Tuhan kalau kita mau membacanya. Nah, di sinilah akal dan jiwa kita diuji. Apakah kita akan menunggu semuanya sempurna atau mulai bertumbuh dalam ketidaksempurnaan? Rasulullah sendiri lahir dan tumbuh dalam lingkungan yang jauh dari ideal. Tapi justru dari keterbatasan itulah beliau menciptakan perubahan besar yang masih kita rasakan hingga hari ini. Lalu siapa kita sampai harus menunggu semuanya ideal untuk mulai melangkah? Sahabat, jangan menunggu bos berubah. 

Kesimpulan

Jangan menunggu sistem memberi ruang. Ciptakan ruangmu sendiri. Bentuk panggungmu sendiri. dan tumbuhkan versi terbaik dari dirimu hari ini, bukan esok. Maka mulai sekarang jangan tunggu panggung, jadilah panggung. Jangan tunggu undangan. Hadirkan dirimu. Karena yang bertumbuh akan selalu dicari dan yang bersinar akan tetap terlihat bahkan di ruangan yang gelap. Mari kita jadi seorang high performing individual dan mulailah dari keberanian untuk belajar walaupun tak ada yang mengajar. dari semangat untuk bertumbuh walaupun tak ada yang memupuk. Karena karir bukan soal naik jabatan, tapi soal naik kelas untuk menjadi manusia yang butuh di mana pun kita berada.

powered by wadahin.com

[Tulisan ini dibuat dari narasi Dr. Indrawan Nugroho tentang Cara Naik Level Saat Atasan Jalan Di Tempat]

 

#tips

Arif Widodo

Lowongan Kerja Terbaru dan Pengembangan Karir Author

Arif Widodo

Hanya seorang bapak-bapak yang suka membuat aplikasi dan bermusik

Lihat Profil